Gelar Haji

Di negara kita tercinta ini (Indonesia) banyak sekali orang-orang yang (alhamdulillah, semoga saya juga diberi kesempatan oleh Allah  Subhanahu wa Ta’ala) sudah menunaikan ibadah haji ke Mekah begitu pulang nama mereka jadi tambah panjang alias dengan tambahan gelar “H” untuk yang pria atau “Hj” untuk yang wanita contohnya H. Fulan atau Hj. Fulanah. Anehnya “penyakit” gelar haji seperti ini hanya ada di Indonesia, 10 tahun di Belanda, nggak pernah saya temui orang muslim yang sudah pergi haji namanya jadi ada Haji-nya. Ataupun orang-orang Arab yang asli, nggak pernah saya jumpai nama mereka pakai “H” didepannya. Apalagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah dengar kita beliau pakai gelar Haji? Haji Muhammad Rasulullah? Haji Abu Bakr? Haji Umar? Haji Ali? Haji Utsman?

Haji itu apa sih, kok hampir semua orang setelah menunaikan ibadah haji pada pakai gelar Haji?
Kalo kita lihat sebenarnya haji itu adalah suatu ritual ibadah, salah satu rukun Islam (Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa, Haji) yang wajib dilaksanakan bagi mereka yang mampu baik secara materi maupun fisik. Contohnya bapak Fulan punya duit 1 milyar tapi koma di rumah sakit, berarti dia nggak wajib ibadah haji, begitu sembuh, sadar, dia wajib langsung ke Mekah untuk ibadah haji (tentunya pada waktu musim haji berikutnya). Contoh kedua, bapak Fulan sehat walafiat, atlit olimpiade cabang atletik, tapi dia nggak punya duit, utang masih banyak, maka dia nggak wajib ibadah Haji. Contoh lagi, ibu Fulanah kaya raya, utang nggak ada, malah banyak piutang, duit 1 triliun, tapi nggak ada mahram yang bisa nemenin, nah dia juga nggak wajib Haji, karena bagi wanita, wajib adanya mahram untuk bisa bepergian jauh, nggak ada ceritanya wanita haji sendirian.

Nah, logika sederhananya, kalau haji adalah ibadah “biasa”, maksud biasa disini bukan berarti menyepelekan akan tetapi haji merupakan salah satu rukun Islam seperti halnya syadahat, sholat, zakat, dan puasa. Maka alasan apa yang bisa membenarkan pemberian gelar haji? Dan kalau mau konsisten seharusnya kalau mereka juga sholat, gelar Sholat juga harus dikasih, contohnya H. S. Fulan (kependekan dari Haji Sholat Fulan). Kalau dia bayar zakat dan puasa ditambah lagi udh syahadat, maka gelarnya harus lengkap S. S. Z. P. H. Fulan (kependekan dari Syahadat Sholat Zakat Puasa Haji Fulan), itu kalau mau konsisten, tapi kenapa hanya Haji saja yang dapat gelar? Ini saya nggak ngerti sama sekali. Kalau mereka berpendapat bahwa karena sudah pergi haji lalu dapat gelar, kenapa sholat enggak? apa mereka nggak sholat? apa mereka nggak syahadat? apa mereka nggak puasa? apa mereka nggak bayar zakat?

Dua syarat diterimanya ibadah[1]
Haji termasuk ibadah yang disyariatkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh karena itu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi agar haji kita bisa diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentunya syarat ritual ibadah haji juga termasuk selain dua syarat yang akan kita bahas disini. Dua syarat diterimanya ibadah ini adalah bukan karangan ulama-ulama terdahulu melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang menetapkannya. Seperti firmanNya dalam ayat terakhir surat Al Kahfi yang artinya:

“Sesunggunya Sesembahan kalian adalah sesembahan yang esa, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Robbnya maka hendaklah ia beramal ibadah dengan amalan yang sholeh dan tidak menyekutukan Robbnya dalam amal ibadahnya dengan suatu apapun“.(QS : Al Kahfi: 110)

Ibnu Katsir Asy Syafi’i rohimahullah mengatakan tentang ayat ini bahwa “Maka hendaklah ia beramal ibadah dengan amalah yang sholeh” maksudnya adalah amalan yang mengikuti syariat Allah yaitu mengikuti petunjuk/ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Tidak menyekutukan Robbnya dalam amal ibadahnya dengan suatu apapun”, maksudnya adalah selalu mengharap wajah Allah saja dan tidak berbuat syirik kepada-Nya. Kemudian beliau (Ibnu Katsir) mengatakan, “Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[2]

Ibnu Katsir adalah seorang pakar tafsir yang tidak diragukan lagi keilmuannya, kalau ada diantara pembaca yang belum tau, silakan belajar dulu sebelum membantah.

Nah, kalau dua syarat ibadah tersebut sudah jelas dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka kenapa kita masih mengarap pujian manusia? Sekarang mari kita pikirkan gelar haji tersebut untuk apa kalau bukan mencari pujian manusia? Apa bedanya haji dengan gelar-gelar lainnya semacam Doktor, Profesor, Insinyur? Maaf-maaf saja, gelar-gelar tersebut belum tentu bisa memasukkan kita semua kedalam surga, tapi Haji kalau kita ikhlas melaksanakannya, insya Allah surga pahalanya. Jadi percuma bapak ibu udh capek-capek pergi ke Arab Saudi, duitnya juga banyak, tapi ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima jerih payah kita pergi haji, oleh karena itu marilah kita luruskan niat, hilangkan gelar haji dari nama kita, ikhlaskan haji kita hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.

Hanya Allah yang memberi taufik.

 

[1] http://muslim.or.id/aqidah/dua-syarat-diterimanya-ibadah.html

[2] Lihat Shohih Tafsir Ibnu Katsir oleh Syaikh Musthofa Al Adawiy hafidzahullah hal. 57/III, terbitan Dar Ibnu Rojab, Mesir.

 

Advertisements

One thought on “Gelar Haji

  1. Pingback: Mengapa Partai Bukanlah Wadah Yang Benar Untuk Mendakwahkan Islam Part 1 – Everything In Between

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s