Mengapa Partai Bukanlah Wadah Yang Benar Untuk Mendakwahkan Islam Part 1

Sekarang ini lagi anget-angetnya ngomongin partai, kebetulan ada dua partai yang lagi jadi sorotan besar di media dan di tengah masyarakat, dan sesuai dengan sifat sebuah partai (grup, golongan, dan sejenisnya) pasti ada pembela dan pembencinya. Dan lucunya, menjelang pemilu, partai-partai ini saling serang, saling perang terbuka di media, saling klaim paling bersih, santun, paling bisa mengatur ratusan juta rakyat Indonesia, dst. Namun entah karena bodoh, tuntutan balik modal, atau memang karena gengsi, setelah pemilu, melihat perolehan suara masing-masing (apalagi kalau kalah), ideologi-ideologi dan tokoh-tokoh mereka yang tadinya dibela mati-matian dibuang begitu saja demi yang namanya koalisi alias bagi-bagi kekuasaan. Partai (tokoh) pemenang yang tadinya disindir-sindir, akhirnya dipuja dengan berbagai alasan supaya dapat jatah kekuasaan (at least gubernur lah). Dan ini tidak hanya terjadi di tingkat legislatif, pilkada pun sama. Dan yang paling miris partai yang mengaku Islam (atau terbuka, whatever)  ternyata sama saja. Dan inilah bahasan kita, mengapa Islam tidak akan bisa diperjuangkan lewat partai, wa bil khusus demokrasi, apapun alasannya. Kalaupun ada partai atau golongan yang menang dengan demokrasi di negara lain, ketahuilah bahwa itu bukan kemenangan yang hakiki. Alasan-alasan berikut tidak berurutan dan semua sama-sama pentingnya.

1. Kemunafikan
Caleg (Calon Legislatif) atau Calek (Calon Eksekutif), mereka berupaya memperlihatkan citra dirinya sebagai seorang yang baik, taat beragama, gemar shodaqoh, dll. Contoh, jika ada bencana alam, caleg tertentu udah siap dengan berbagai atribut partai (kaos, spanduk, poster) di tempat penampungan bencana untuk membagi-bagikan bantuan. Atau namanya ditambahkan “H” atau “Hj” didepannya kalau dia sudah haji. Jangan dikira selesai sampai disitu, kader-kader dibawahnya pun akan ikut-ikutan pamer atribut partai sambil beramal sholeh entah dengan tujuan apa, yang pasti adanya atribut partai sudah jelas bahwa tujuan beramal itu untuk mendapatkan simpati orang-orang disekitarnya bahwa partai mereka “peduli”. Padahal Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sebuah ketetapan yang baku, mutlak dan pasti bahwa syarat diterimanya sebuah amal hanyalah ada dua yaitu ikhlas karena Allah dan mengikuti contoh Rasulullah. Nah kalo ada kader partai yang lagi sibuk membantu para korban bencana, atau lagi sibuk bagi-bagi sembako tapi dengan membawa atribut partai supaya orang yang dibantu nanti pada nyoblos partai tersebut, maka unsur Ikhlas disini sudah gugur walaupun amalan tsb. ada contohnya dari Rasullullah. Jadi, kalau ada sebuah partai membawa-bawa Islam tapi dalam perjalanannya menuju kekuasaan sangat jauh dari Islam, bgmn mereka akan memperjuangkan Islam kelak setelah berkuasa? Nyatanya kader-kader mereka ketika jadi mentri pada melempem nggak ada efeknya sama sekali buat Islam.

2. Memecah Belah Umat
Yep, ketahuilah bahwa partai sejatinya adalah pemecah belah umat dikarenakan fanatisme buta terhadap partai (tokoh) itu sendiri. Mereka (partai-partai Islam) berdalih memperjuangkan Islam, namun yang terjadi adalah mereka sendiri saling berpecah-belah, merasa partainya paling benar, pemimpinnya paling benar, keputusan pemimpin seperti wahyu ilahi yang harus ditaati, kenapa? simple, karena mereka mempertahankan ideologi partai, bukan Islam. Saya ada pengalaman pribadi tentang hal ini. Dulu kami sekumpulan mahasiswa Bachelor (S1) di sebuah kota di negeri Belanda punya kegiatan ngaji tiap minggu yang tempatnya bergantian di kamar kos kami. Ngaji kita nggak asal namun ada pembimbingnya, karena penting sekali ngaji dengan pembimbing, kalau nggak bisa sesat nantinya. Dan para pembimbing tersebut sebenarnya juga mahasiswa, tapi jenjangnya lebih tinggi, entah lagi ngambil Master atau Doktor. Singkat cerita, kami ngaji total dengan tiga orang pembimbing (atau lebih terkenalnya Murabbi). Dengan kedua murabbi yang pertama kami tidak mengalami kendala sama sekali, bahkan kegiatan ngaji menjadi sebuah kegiatan yang kita selalu kangen jika sekali saja harus ditiadakan karena kesibukan masing-masing dari kami. Mind you, kami berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, namun materi kajian kami umum, menyangkut fiqih, akidah, dan sirah nabawiyah sehingga perbedaan-perbedaan itu tidak pernah menonjol, kalaupun pernah, sedikit sekali dan cuma jadi bahan guyonan. Namun ada atmosfir yang berbeda ketika seorang murabbi yang ketiga (dan terakhir) menggantikan yang kedua karena beliau telah selesai dengan jenjang pendidikan Doktor dan meninggalkan Belanda. Jika sebelumnya kami ngaji dengan tenang tanpa mengarah kepada kelompok atau partai tertentu, kali ini secara pelan tapi pasti agendanya jelas, yaitu sebagai wadah advertising atau iklan partai karena kebetulan waktu itu mau pemilu 2009. Jadi praktis sumber kami mengaji tidak lagi Al Qur’an dan AsSunnah, tapi dari buku-buku tokoh-tokoh suatu kelompok tertentu. Dan klimaksnya adalah sebuah email yang dikirimkan oleh pembimbing yang intinya, kalau nggak ikut kelompok dia, maka disitulah titik perpisahan diantara kami. Allahu Akbar, persaudaraan yang sudah lama terbentuk dan enak-enak akhirnya berakhir dengan cara seperti itu. Demi Allah, dalil Qur’an dan Sunnah sudah kami kemukakan, dari ulama-ulama sekelas Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyah, dll. Bukan kami asal comot saja, namun tetap beliau ambil pendapat majelis syuro partainya, menurutnya, itulah yang mutlak benar.

Perlu diketahui bahwa tidak semua orang/kader partai Islam seperti itu, saya sendiri ada banyak kenalan-kenalan yang mereka begitu ikhlas dan baik luar biasa, dimana kebaikan-kebaikan mereka kepada saya hanya Allah lah yang dapat membalasnya. Termasuk kedua pembimbing kami sebelumnya. Kami tidak pernah ada masalah dengan mereka, bahkan kami senang kalau bisa ikut kegiatan-kegiatan umum yang mereka adakan (seperti kemah, piknik, atau sekedar acara makan-makan, dll.). Perhatikan ayat berikut ini.

“Artinya ; Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat”  [Al-An’am; 159]

Bukan Caranya Rasulullah Berdakwah
Tapi kan partai didirikan untuk tujuan berdakwah? Bagaimana dengan pertanyaan seperti itu? Berikut jawabannya.

“Dan janganlah kamu termasuk orang yang menyekutukan Alloh yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” [Al-Rum : 31-32]

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Tidak boleh bagi siapa pun mengangkat orang mengajak umat ini untuk mengikuti pola hidup dan peraturannya, senang dan membenci karena dia selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ijma ulama Sunnah. Adapun ciri ahli bid’ah mereka mengangkat pemimpin dari umat ini, atau membuat peraturan yang mengakibatkan umat berpecah belah, mereka mencintai umat karena mengikuti peraturan golongannya dan memusuhi orang yang tidak mengikuti golongannya” [Dar’ut Ta’arudh 1/149]

Selanjutnya beliau rahimahullah berkata ;”Dan tidak boleh seorangpun membuat undang-undang yang dia menyenangi orang atau memusuhinya dengan dasar peraturannya, bukan peraturan yang tercantum dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 20/164]

Dan yang paling penting dari itu semua adalah bagaimana sikap Rasulullah terhadap hal seperti ini? Perlu diingat bahwa semua bentuk-bentuk ibadah sudah diajarkan oleh beliau, termasuk cara dakwah kita, jangan dikira hal ini merupakan zona yang boleh kita untuk melakukan inovasi, sebaiknya kita berhati-hati. Berikut nasehat Rasulullah.

”Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian hidup (setelah aku meninggal dunia) akan menjumpai perselisihan yang banyak”. Lalu bagaimana kita harus bersikap ketika hal ini terjadi? Berikut lanjutan dari haditsnya.

“Wajib bagimu berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku, hendaknya kamu berpegang kepadanya, dan gigitlah dengan gigi gerahammu, jauhkan dirimu dari perkara baru, karena setiap perkara baru bid’ah dan setiap bid’ah dan setiap bid’ah adalah tersesat”. (Dishahihkan oleh Al-Albani. Lihat Al-Irwa : 2455)

Bukankah hadits diatas sudah jelas dan gamblang, bahwa kita diwajibkan untuk berpegang kepada sunnah Rasulullah dan sunnah 4 sahabat sesudah beliau  wafat? Apakah itu nggak cukup sehingga kita mesti berpecah-belah menjadi partai-partai? Punya AD/ART sendiri? Saya pernah dengar alasan bahwa AD/ART merupakan turunan dari Qur’an dan Sunnah jadi it’s ok, sudah benar dan masih berada di rel yang lurus jalannya Rasulullah. Wait a minute, Qur’an dan Sunnah itu sudah pasti benar karena dari Allah, tapi AD/ART itu dari manusia, walaupun itu turunan tapi sampai sejauh mana pemahaman sekelompok manusia kalau tidak mengikuti pemahaman Rasulullah dan para sahabat beliau? Alasan lain yang nggak kalah seru yaitu mereka suka membawakan dalil yang menyatakan bahwa “perpecahan/perbedaan umat itu adalah rahmat”. Ketahuilah bahwa itu adalah hadits palsu. Syaikh Al-Albani berkata : “Para pakar ahli hadits telah mencoba mencari sanad hadits ini akan tetapi tidak menemukannya” [Lihat Silsilah Ahadits Dho’ifah 1/141]. Lagipula aneh sekali pemikirannya, nggak masuk di akal. Mana ada orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih hidupnya penuh dengan rahmat? Mustahil. Suami istri yang berselisih saja akan terganggu mentalnya, apalagi berselisih secara akidah dan ibadah? Sungguh mustahil bisa merasakan rahmat. Oleh karena itu ahli bid’ah dan orang yang fanatik golongan merasa sakit hatinya bika dikritik kesalahannya.

Perpecahan umat merupakan ujian bagi orang-orang yang beriman. Hendaknya mereka memilih jalan yang benar dan meninggalkan kelompok-kelompok yang tersesat. Dalilnya adalah ayat berikut.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” [Ali-Imran ; 103]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Sesungguhnya Allah meridhoi kamu tiga perkara dan membenci kamu tiga perkara ; Dia meridhoi kamu apabila kamu beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu kepada-Nya, dan apabila kamu berpegang teguh kepada tali Allah semua dan kamu tidak berpecah-belah” [HR Muslim : 3236]

Bersambung insha Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s