Partaiku Adalah Agamaku

Disclaimer: Saya bukan simpatisan Partai Demokrat, apalagi kadernya. Dan saya pun bukan simpatisan partai apapun, apalagi kader dari partai apapun.

Anas Urbaningrum, seorang muslim, sedang dalam “musibah”, entah itu dituduh korupsi Hambalang, atau posisinya sebagai ketua umum Partai Demokrat yang sedang digoyang. Namun tak ada yang membela bahwa itu konspirasi, fitnah, dan tuduhan keji. Saudara-saudara muslim dari partai lain seakan tak peduli. Benar, karena beda partai, maka sesama muslim pun tidak dipedulikan, karena beda partai, sesama muslim pun dihujat, kalau perlu dijatuhkan martabatnya, disebarkan aibnya, demi kemenangan partai. Bahkan sekarang, ketika dedengkot kafir liberal ulil abshar menyerang Anas, saudara-saudara muslim yang lain partai tambah senang. Asal partainya bisa menang di pemilu mendatang, maka apapun yang terjadi pada saudara-saudara muslimnya di partai lain, peduli amat.

Begitulah kenyataannya, partai adalah sebuah agama baru. Ada yang mengaku partai nasionalis, tapi ujung-ujungnya merampok uang rakyat, dan melarikan diri ke luar negeri.¬†Ada yang mengaku partai Islam, tapi bukan Islam yang diperjuangkan, namun partainya sendiri, tokohnya sendiri. Seperti cerita diatas, sesama muslim yang harusnya bersaudara namun saling bantai karena beda partai. Partainyalah yang paling benar, partai lain pasti salah dan sesat, kecuali kalau kalah pemilu, akan ada fatwa-fatwa “kontemporer” yang keluar untuk menjilat sang partai pemenang demi mendapatkan sebagian kekuasaan yang gagal didapatkan.¬†Setelah duduk di kursi empuk anggota DPR, dengan segudang tunjangan yang nggak masuk akal, lupalah dia akan janjinya memperjuangkan Islam, namun ketika “musibah” datang, partailah yang pertama kali diselamatkan namanya, dan bukan Islam.

Ketika musibah datang menimpa rakyat, maka itulah kesempatan yang besar untuk mengeruk suara. Berbagai macam bantuan datang untuk korban bencana, namun tak lupa atribut partai harus ikut serta, terutama jika diliput berita.

Saya kasihan dengan kader-kader yang dibawah, mereka belum mengerti bahwa perjuangan Islam itu tidak melalui partai, apalagi demokrasi. Rasulullah tidak pernah mengajarkan demikian. Mereka tidak menyadari bahwa keberadaan partai justru memecah belah umat, bukan menyatukan. Persatuan umat adalah dibawah akidah yang benar, dengan melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah, bukan dengan melaksanakan sunnah-sunnah partai.

Advertisements